{"id":10804,"date":"2025-10-02T09:00:00","date_gmt":"2025-10-02T02:00:00","guid":{"rendered":"https:\/\/lppm.isi.ac.id\/?p=10804"},"modified":"2025-11-17T09:25:36","modified_gmt":"2025-11-17T02:25:36","slug":"dari-gulma-menjadi-berkah-eceng-gondok-disulap-jadi-produk-anyaman-bernilai-ekonomi-tinggi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lppm.isi.ac.id\/en\/2025\/10\/02\/dari-gulma-menjadi-berkah-eceng-gondok-disulap-jadi-produk-anyaman-bernilai-ekonomi-tinggi\/","title":{"rendered":"Dari Gulma Menjadi Berkah: Eceng Gondok Disulap Jadi Produk Anyaman Bernilai Ekonomi Tinggi"},"content":{"rendered":"<div data-elementor-type=\"wp-post\" data-elementor-id=\"10804\" class=\"elementor elementor-10804\" data-elementor-post-type=\"post\">\n\t\t\t\t\t\t<div class=\"elementor-section elementor-top-section elementor-element elementor-element-6dc18281 elementor-section-boxed elementor-section-height-default elementor-section-height-default\" data-id=\"6dc18281\" data-element_type=\"section\" data-e-type=\"section\">\r\n\t\t\r\n\t\t\t\t\t\t\t<div class=\"elementor-container elementor-column-gap-default\">\r\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t<div class=\"elementor-column elementor-col-100 elementor-top-column elementor-element elementor-element-219e3b86 h-100\" data-id=\"219e3b86\" data-element_type=\"column\" data-e-type=\"column\">\r\n\t\t\t\t\t<div class=\"elementor-widget-wrap elementor-element-populated\">\r\n\t\t\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-63fab179 e-con-full e-flex e-con e-parent\" data-id=\"63fab179\" data-element_type=\"container\" data-e-type=\"container\">\r\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-4c2f0d5a elementor-widget elementor-widget-text-editor\" data-id=\"4c2f0d5a\" data-element_type=\"widget\" data-e-type=\"widget\" data-widget_type=\"text-editor.default\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-widget-container\">\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t<p>TRIBUNJOGJA.COM, KULON PROGO &#8211; Siapa sangka, tanaman eceng gondok yang kerap dianggap sebagai gulma pengganggu perairan, kini menjelma menjadi sumber ekonomi kreatif yang menjanjikan. Di tangan para pengrajin terampil, tanaman air ini diolah menjadi produk anyaman bernilai seni tinggi seperti tas, keranjang, tempat tisu, alas meja, hingga furnitur kecil seperti stool dan meja kopi. Pertumbuhan eceng gondok yang cepat memang kerap menutupi permukaan sungai, danau, atau waduk, menghambat aliran air, serta mengganggu ekosistem perairan.<\/p>\t\t\t\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t\t<\/div>\r\n\t\t\t\t<\/div>\r\n\t\t\t\t\t<\/div>\r\n\t\t\t\t<\/div>\r\n\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-27d5ebef e-con-full e-flex e-con e-parent\" data-id=\"27d5ebef\" data-element_type=\"container\" data-e-type=\"container\">\r\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-2bcf1992 elementor-widget elementor-widget-text-editor\" data-id=\"2bcf1992\" data-element_type=\"widget\" data-e-type=\"widget\" data-widget_type=\"text-editor.default\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-widget-container\">\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t<p>Namun, berkat sentuhan kreativitas dan kepedulian terhadap lingkungan, tanaman ini kini menjadi solusi, bukan lagi masalah. Pemanfaatan eceng gondok tidak hanya membuka peluang usaha mikro, tetapi juga berkontribusi terhadap pelestarian lingkungan. Dengan memanen secara rutin, kondisi perairan tetap bersih dan ekosistem tetap seimbang.<\/p>\t\t\t\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-235f59ab elementor-widget elementor-widget-text-editor\" data-id=\"235f59ab\" data-element_type=\"widget\" data-e-type=\"widget\" data-widget_type=\"text-editor.default\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-widget-container\">\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t<p>Untuk menghasilkan produk yang berkualitas, proses produksi dilakukan secara teliti dan berkelanjutan. Eceng gondok dipilih dari sumber yang dikelola dengan baik, kemudian dikeringkan hingga seratnya kuat dan tahan lama. Batang yang telah siap kemudian dianyam menjadi berbagai bentuk, sesuai desain dan kebutuhan pasar. Penggunaan teknik anyaman efisien, alat-alat ramah lingkungan, serta penerapan standar kualitas menjadi faktor utama agar produk mampu bersaing di pasar nasional maupun internasional.\u00a0<\/p>\t\t\t\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-425f21b elementor-widget elementor-widget-text-editor\" data-id=\"425f21b\" data-element_type=\"widget\" data-e-type=\"widget\" data-widget_type=\"text-editor.default\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-widget-container\">\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t<p>Di balik kesuksesan ini, pemberdayaan masyarakat lokal memegang peran penting. Warga desa di sekitar sumber bahan baku dilatih untuk menguasai teknik anyaman, pengembangan desain, hingga manajemen usaha. Program ini tidak hanya meningkatkan keterampilan, tapi juga memperluas peluang pendapatan keluarga.<\/p>\t\t\t\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-65d848a elementor-widget elementor-widget-text-editor\" data-id=\"65d848a\" data-element_type=\"widget\" data-e-type=\"widget\" data-widget_type=\"text-editor.default\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-widget-container\">\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t<p>Keberhasilan inisiatif ini diperkuat melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat Tahun Pendanaan 2025 dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.<\/p>\t\t\t\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-b120b43 elementor-widget elementor-widget-text-editor\" data-id=\"b120b43\" data-element_type=\"widget\" data-e-type=\"widget\" data-widget_type=\"text-editor.default\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-widget-container\">\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t<p>Program ini dilaksanakan oleh Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, dimulai sejak 17 September hingga awal Desember 2025, di bawah kepemimpinan Riza Septriani Dewi bersama tim ahli kriya dan desain produk.\u00a0<\/p>\t\t\t\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-a12fcaa elementor-widget elementor-widget-text-editor\" data-id=\"a12fcaa\" data-element_type=\"widget\" data-e-type=\"widget\" data-widget_type=\"text-editor.default\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-widget-container\">\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t<p>Dalam implementasinya, ISI Yogyakarta menjalin kemitraan strategis dengan Cempaka Craft yang berlokasi di Bugel, Kecamatan Panjatan, Kulon Progo, milik pengrajin Heri Prazogie Sulistyo Dono. Kolaborasi ini bertujuan memperkuat kapasitas produksi, meningkatkan kualitas produk, serta memperluas jaringan pemasaran hingga ke tingkat internasional.<\/p>\t\t\t\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-00f9e79 elementor-widget elementor-widget-text-editor\" data-id=\"00f9e79\" data-element_type=\"widget\" data-e-type=\"widget\" data-widget_type=\"text-editor.default\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-widget-container\">\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t<p>Kini, eceng gondok tak lagi dipandang sebelah mata. Dari desa-desa di Kulon Progo, lahir produk anyaman ramah lingkungan yang menjadi simbol inovasi, kreativitas, dan kepedulian terhadap alam. Dengan dukungan dari akademisi, pemerintah, dan pelaku usaha lokal, industri kerajinan eceng gondok siap menembus pasar global.<\/p>\t\t\t\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-element elementor-element-3fc686f elementor-widget elementor-widget-text-editor\" data-id=\"3fc686f\" data-element_type=\"widget\" data-e-type=\"widget\" data-widget_type=\"text-editor.default\">\n\t\t\t\t<div class=\"elementor-widget-container\">\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t<p><em><span style=\"font-size: 12px;\">Artikel ini telah tayang di TribunJogja.com dengan judul Dari Gulma Menjadi Berkah: Eceng Gondok Disulap Jadi Produk Anyaman Bernilai Ekonomi Tinggi,<br \/><\/span><\/em><em><span style=\"font-size: 12px;\">https:\/\/jogja.tribunnews.com\/diy\/1194827\/dari-gulma-menjadi-berkah-eceng-gondok-disulap-jadi-produk-anyaman-bernilai-ekonomi-tinggi<br \/>Penulis: Hari Susmayanti | Editor: Hari Susmayanti<\/span><\/em><\/p>\t\t\t\t\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>\n\t\t\t\t<\/div>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>TRIBUNJOGJA.COM, KULON PROGO &#8211; Siapa sangka, tanaman eceng gondok yang kerap dianggap sebagai gulma pengganggu perairan, kini menjelma menjadi sumber ekonomi kreatif yang menjanjikan. Di tangan para pengrajin terampil, tanaman air ini diolah menjadi produk anyaman bernilai seni tinggi seperti tas, keranjang, tempat tisu, alas meja, hingga furnitur kecil seperti stool dan meja kopi. Pertumbuhan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":10805,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[242,36],"tags":[175,132,183,237,59,144,54],"class_list":["post-10804","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-abdimas-dppm","category-berita","tag-isi-surakarta","tag-isi-yogyakarta","tag-kemdikbudristek","tag-kemitraan-masyarakat","tag-lppm","tag-pengabdian-masyarakat","tag-perguruan-tinggi"],"featured_image_src":{"landsacpe":["https:\/\/lppm.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/Dari-Gulma-Menjadi-Berkah-Eceng-Gondok-Disulap-Jadi-Produk-Anyaman-Bernilai-Ekonomi-Tinggi-1024x445.jpg",1024,445,true],"list":["https:\/\/lppm.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/Dari-Gulma-Menjadi-Berkah-Eceng-Gondok-Disulap-Jadi-Produk-Anyaman-Bernilai-Ekonomi-Tinggi-463x348.jpg",463,348,true],"medium":["https:\/\/lppm.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/Dari-Gulma-Menjadi-Berkah-Eceng-Gondok-Disulap-Jadi-Produk-Anyaman-Bernilai-Ekonomi-Tinggi-300x166.jpg",300,166,true],"full":["https:\/\/lppm.isi.ac.id\/wp-content\/uploads\/2025\/11\/Dari-Gulma-Menjadi-Berkah-Eceng-Gondok-Disulap-Jadi-Produk-Anyaman-Bernilai-Ekonomi-Tinggi.jpg",1024,568,false]},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lppm.isi.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10804","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lppm.isi.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lppm.isi.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lppm.isi.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lppm.isi.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=10804"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/lppm.isi.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10804\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":10810,"href":"https:\/\/lppm.isi.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10804\/revisions\/10810"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lppm.isi.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/10805"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lppm.isi.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=10804"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lppm.isi.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=10804"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lppm.isi.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=10804"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}