Sentuhan Akademisi ISI Yogyakarta Bangkitkan Kembali Seni Gejoglesung di Gunungkidul

Sentuhan Akademisi ISI Yogyakarta Bangkitkan Kembali Seni Gejoglesung di Gunungkidul

Kenyataan yang tidak dapat dihindari bersamaan munculnya berbagai jenis hiburan instan yang dengan mudah ditemukan di berbagai media terutama televisi.  Apalagi selain hal tersebut, regenerasi pemain Gejoglesung tidak pernah dijamah baik oleh masyarakat pemilik kesenian itu sendiri maupun instansi yang terkait seperti Dinas Kebudayaan (kecuali pendataan sekedar pemenuhan administratif), sehingga semakin menambah parahnya kehidupan kesenian tersebut.

Masalah kesenian Gejoglesung belum tentu ikut dihadirkan, yang kesemuanya tentu dengan alasan yang klasik “permasalahan dana” padahal jika dirunut tidak seberapa dana yang harus dikeluarkan. Ternyata salah satu penyebab karena kemonotoan dari beberapa aspek pertunjukan kesenian Gejoglesung itu sendiri sehingga ditinggalkan oleh masyarakat pendukungnya. Mengingat hal tersebut dan agar terlihat lebih baik dari segi pertunjukan perlu mendapatkan sentuhan estetika baik unsur gerak, busana, pola lantai dan tidak kalah penting tentang musik  dan lagunya yang selaras dan seiring dengan perkembangan jaman. Mengingat  sebagian besar seni tradisional mengalami nasib yang hampir sama, yakni kepunahan karena berbagai aspek terutama regenerasi para pemainnya.

Seiring dengan perkembangan jaman, kesenian yang semula bersifat tradisi ini lambat laun menjadi berubah. Berubah dalam pengertian gerak maupun garapan iringan yang disajikan. Tugas seniman memang berusaha untuk memenuhi permintaan masyarakat, tetapi sebagai seniman tradisi akan sangat berat untuk dapat menyesuaikan diri. Demikian pula dengan kesenian rakyat seperti halnya Seni Gejoglesung

Hal tersebut juga terjadi di masyarakat Padukuhan Kranon – Kalurahan Kepek – Kapanewon Wonosari – Gunungkidul. Yakni merupakan masyarakat yang senantiasa mempertahankan dan melestarikan kebudayaan yang dimilikinya dan selalu dipercayainya. Masyarakat setempat sangat percaya bahwa kesenian yang dimilikinya yakni Gejoglesung tersebut telah ada sejak jaman nenek moyang mereka yang selalu difungsikan untuk menjaga keamanan lingkungan selain setiap upacara ulangtahun kalurahan selalu ditampilkan.

Agar penyajian lebih menarik dan dapat dikategorikan sebuah pertunjukan yang layak jual, maka perlu ditata dari berbagai aspek. Pengembangan motif dan ragam gerak tari, pola lantai, iringan termasuk setting dan penempatan instrumen dan pemusiknya serta sikap pada waktu pentas perlu mendapat sentuhan-sentuhan akademisi. Hal yang perlu mendapat perhatian dan penanganan yang khusus yakni ”garap” instrumen pada penyajian sebuah lagu, sehingga tidak terkesan monoton dan membosankan.

Pembenahan memang tidak bisa secara frontal namun pelan dan pasti, karena cukup berdampak pada apa yang telah ada sehingga secara jeli dan hati-hati perlu tindakan yang bijaksana. Hal seperti di atas memang menjadi tugas dari kalangan akademisi dan sudah pada tempatnya apabila tim pembina LPM ISI Yogyakarta berada di lokasi dan objek kesenian dimaksud.

Seperti yang telah disampaikan bahwa sasaran utama dari penyuluhan dan kepelatihan ini, khususnya diberikan kepada anggota dan pengurus Grup Gejoglesung “Srikandhi Kranon”, di Padukuhan Kranon, Kalurahan Kepek, Kapanewon Wonosari Gunungkidul. Diharapkan ke depannya dapat menarik minat generasi muda pada usia remaja untuk menjadi pewaris kesenian rakyat yang ada.

Hal tersebut sangat selaras dengan tujuan pemerintah Kabupaten Gunungkidul khususnya Dinas Kebudayaan yang ditindak lanjuti oleh pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta. Dengan adanya penyuluhan ini diharapkan tidak terjadi kesenjangan dengan generasi sebelumnya yang pada akhirnya Grup Gejoglesung “Srikandhi Kranon”, tersebut tidak mengalami kepunahan.

Berdasarkan pengamatan setelah dilaksanakan penyuluhan seni selama 16 kali pertemuan sejak 19 Juli s.d 13 Oktober 2025 yang dibuktuikan dengan pementasan terutama pada acara Kirab Budaya 30 Agustus 2025, seluruh peserta penyuluhan ternyata mempunyai kemampuan ketrampilan dan wawasan yang cukup signifikan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.

Walaupun kedisiplinan untuk kedatangan berlatih terkadang tidak pernah tepat waktu, namun ketekunan dalam berlatih cukup tinggi. Hal ini menjadikan motivasi tersendiri bagi dosen penyuluh untuk menanamkan kesadaran tentang kedisiplinan. Peserta penuluhan secara prinsip mempunyai bakat dan minat yang luarbiasa terhadap kesenian Gejoglesung. Hal tersebut apabila ditempa secara berkelanjutan niscaya akan menjadi seniman tradisional yang cukup mumpuni

Sumber: Tim Penyuluhan Kepek Wonosari 2025

Cari
Kategori

Bagikan postingan ini

id_IDIndonesian