Penyuluhan Tari Kreatif di Oemah Budaya Larasati Dorong Kreativitas Anak dan Kesadaran Lingkungan

Penyuluhan Tari Kreatif di Oemah Budaya Larasati Dorong Kreativitas Anak dan Kesadaran Lingkungan

Oemah Budaya Larasati di Dusun Semail, Kalurahan Bangunharjo, Kecamatan Sewon, Bantul, kembali menjadi ruang hidup bagi tumbuhnya kreativitas anak melalui penyuluhan tari kreatif yang berlangsung sejak 25 Juli hingga 11 Oktober 2025. Program penyuluhan yang berlangsung selama lebih dari dua bulan ini menghadirkan pendekatan pembelajaran seni berbasis observasi lingkungan, eksplorasi gerak, serta kolaborasi, yang bertujuan mendorong keberanian anak untuk berkreasi sekaligus menanamkan kesadaran ekologis sejak dini.

Kegiatan ini diikuti oleh 15 anak yang rutin berlatih di Oemah Budaya Larasati, sebuah pusat kegiatan seni dan literasi yang sejak 2019 aktif mengembangkan potensi kreativitas masyarakat terutama generasi muda. Selama rangkaian penyuluhan, anak-anak didampingi oleh tiga penyuluh seni yaitu Agustin Anggraeni, M.A., Galih Prakasiwi, S.Sn., M.A., dan Irta Hayyin Nur Rohmah. Kegiatan juga mendapatkan dukungan dari orang tua, warga setempat, serta pengelola Oemah Budaya. Dari sisi pendanaan, program ini difasilitasi oleh DIPA ISI Yogyakarta dengan tambahan dana pendamping dari pihak Oemah Budaya Larasati.

Penyuluhan tari kreatif ini lahir sebagai respon terhadap menurunnya minat anak terhadap seni tari, terutama akibat derasnya arus hiburan digital yang mengalihkan perhatian mereka dari aktivitas kreatif. Selain itu, banyak anak diketahui cenderung menghafal gerak tari tanpa memahami konsep eksplorasi sebagai proses menemukan bahasa gerak pribadi. Di sisi lain, rendahnya kesadaran lingkungan juga menjadi alasan penting pelaksanaan kegiatan ini. Padahal, dunia tari memiliki relasi kuat dengan fenomena alam, gerak hewan, serta nilai-nilai ekologis yang bisa menjadi sumber inspirasi gerak.

Selama 12 kali pertemuan yang dilaksanakan setiap akhir pekan, para peserta terlibat dalam proses pembelajaran bertahap yang dimulai dari observasi lingkungan sekitar. Anak-anak diajak pergi ke area sawah yang tak jauh dari lokasi Oemah Budaya untuk mengamati berbagai fenomena seperti gerak daun padi tertiup angin, hewan kecil di pematang, aliran air irigasi, hingga keberadaan sampah yang mengganggu panorama alam. Dari hasil pengamatan tersebut, mereka mencatat temuan penting yang kemudian dikembangkan menjadi cerita pendek secara berkelompok.

Cerita inilah yang menjadi dasar eksplorasi gerak. Anak-anak diminta menciptakan gerakan berdasarkan kata, kalimat, atau suasana tertentu dalam cerita mereka. Pendekatan ini membuka ruang bagi mereka untuk menafsirkan pengalaman secara personal dan menerjemahkannya menjadi bentuk gerak. Setiap peserta menghasilkan gerakan berbeda, yang kemudian dipadukan melalui proses diskusi dan latihan bersama. Pemaduan gerak ini menjadi langkah awal menuju penyusunan pola lantai dan komposisi tari secara utuh.

Dalam proses komposisi, tim penyuluh memberikan panduan teknis mengenai struktur tari, urutan adegan, dinamika, serta pemilihan pola lantai yang efektif. Proses ini tidak hanya melatih kemampuan artistik, tetapi juga keterampilan berpikir kritis, kerja sama, dan manajemen ruang pertunjukan. Sebagai bagian dari pengembangan estetika karya, anak-anak juga membuat properti berupa kain lukis dengan tema alam dan sampah, yang kemudian digunakan sebagai elemen kostum saat pementasan.

Hasil dari seluruh proses pembelajaran ini terwujud dalam sebuah karya tari berjudul Memeluk Alam. Karya tersebut dipentaskan dua kali: pertama dalam rangka perayaan HUT Kemerdekaan ke-80 Republik Indonesia di Oemah Budaya Larasati pada Agustus 2025, dan kedua dalam Mini Showcase hasil penyuluhan pada 25 Oktober 2025. Dalam pertunjukan tersebut, anak-anak menunjukkan perkembangan signifikan, baik dalam ekspresi gerak, keberanian tampil, maupun kemampuan bekerja sama. Gerak-gerak yang mereka tampilkan tidak lagi sekadar hafalan, melainkan representasi dari pengalaman melihat, merasakan, dan menafsirkan fenomena alam.

Selain peningkatan kreativitas, kegiatan penyuluhan ini juga berhasil menanamkan nilai-nilai kepedulian lingkungan. Melalui proses observasi dan diskusi, anak-anak diajak memahami bagaimana lingkungan sekitar memberi inspirasi, sekaligus bagaimana tindakan manusia dapat berdampak pada kelestarian alam. Kesadaran ini diwujudkan dalam gerakan-gerakan simbolik dalam karya Memeluk Alam, seperti gerakan menyingkirkan sampah, memeluk pohon, serta mengikuti alur air. Pesan ekologis tersebut menjadi nilai lebih dari karya yang dihasilkan.

Meski demikian, pelaksanaan penyuluhan tidak lepas dari tantangan. Salah satu kendala utama adalah ketidakkonsistenan kehadiran beberapa peserta, yang berdampak pada kesinambungan proses latihan kelompok. Selain itu, sejumlah anak sempat mengalami rasa kurang percaya diri pada tahap awal eksplorasi gerak. Namun, berkat pendekatan pedagogis yang ramah dan partisipatif, para penyuluh berhasil membantu anak-anak membangun keberanian serta rasa percaya diri sepanjang proses.

Secara keseluruhan, penyuluhan tari kreatif di Oemah Budaya Larasati menjadi contoh bagaimana seni dapat berfungsi sebagai media pendidikan multidisipliner. Kegiatan ini menunjukkan bahwa seni tari tidak hanya mampu mengembangkan aspek estetika dan kreativitas, tetapi juga dapat menjadi sarana efektif untuk mengajarkan nilai lingkungan dan karakter. Dengan antusiasme peserta serta dukungan masyarakat, program serupa diharapkan terus dilanjutkan dan diperluas agar lebih banyak anak di Kabupaten Bantul dapat merasakan manfaatnya.

Sumber: Tim Penyuluhan Seni Bangunharjo 2025

Cari
Kategori

Bagikan postingan ini

id_IDIndonesian